Little Day With You

Terkadang cinta tak tau tempat, tak tau arah, tak pernah memberi tau kapan datang, dan tak pernah memberi tau bahwa itu adalah cinta. Tak ada yang tau, termasuk seorang gadis SMP bernama Keira. Kata cinta selalu membuatnya berkecil hati, karena baginya, cinta tak mungkin datang padanya. Di pagi hari yang cerah dalam perjalanan ke sekolah. Penuh kebisingan, pengap, dan sesak melebur menjadi satu. Suara pengamen pun membuat tempat itu menjadi sedikit tak terkendali. Namun, seorang pria dengan tatapan sendu menarik perhatian Keira. Pria berbadan tegap, tinggi, dan berwajah datar yang dingin itu berdiri di samping Keira, membuat gadis itu terus meliriknya.

Bagaimana bisa dia tinggi begitu? Membuatku iri saja. Pikirnya sambil melihat si pria dari atas ke bawah, dan kembali melihat wajahnya. Sadar ada yang memperhatikannya, pria itu menoleh ke Keira. Dengan cepat Keira memalingkan wajah dan menghindari kontak mata. Ia diam membeku.

“Permisi-“ dengan ragu pria itu bertanya. “... Apa kau, barusan, menatapku?”

Mata Keira terbelalak lebar. Tamat sudah. Pikirnya panik, sambil merutuk diri sendiri.

Keira menoleh perlahan. “Enggak, kau salah.” Jawabnya sambil menggelengkan kepala.

“Ku rasa aku benar.” Simpul pria itu seenaknya.

“Enggak!” tolak Keira tegas.

Semua orang di dalam bis itu menatap tanya ke arah Keira. Di luar memang berisik, namun dia merasa sunyi di dalam bis. Mereka berdua terdiam dengan pikiran masing – masing, tanpa menyadari waktu yang terus berjalan. Tiga jam pun berlalu, Keira sampai di daerah S, tempat sekolahnya berada. Tinggal satu pemberhentian, ia akan tiba di SMP Harapan.

“SMA Penerbangan!” teriak penjaga pintu bis, membuat beberapa orang bersiap di pintu keluar, termasuk pria di samping Keira.

Oh... ternyata dia anak penerbangan. Pikir Keira melihatya turun dari bis. Semoga aku gak bertemu dengannya lagi. Harapnya.

Pagi berganti siang, bis tak sesesak dan sepengap tadi pagi, namun gerah justru menghampiri. Keira yang duduk di bangku penumpang mengipasi diri, mencoba menghilangkan panasnya udara di sekitar. Bis berhenti di tempat yang sama waktu menurunkan pria pagi tadi, mengakut beberapa orang di sana dan kembali berjalan. “Kau gadis yang tadi pagi, kan?” suara seorang pria memastikan.

Suara yang cukup familiar bagi Keira, ia pun menoleh, dan terkejut melihatnya. Hah! Kenapa dia lagi?! Teriaknya dalam hati, tak percaya.

“Benar rupanya.” Imbuh pria itu dengan senyum yang tersungging di bibirnya, lalu duduk di sebelah Keira.

“Ku rasa kau salah orang, aku baru pertama kali melihatmu.” Balas Keira ketus.

“Kalau baru pertama kali, kenapa tadi terkejut melihatku? Aku kan bukan hantu.” Keira hanya bisa menutup rapat mulutnya, dan menunduk malu.

Pria itu tertawa. Keira melihatnya bingung dengan tatapan penuh tanya. Lalu pria itu mengulurkan tangannya dan mengenalkan dirinya. “Namaku Angkasa, anak SMA Penerbangan. Kamu?”

Gadis 13 tahun itu termenung melihat tangan Angkasa. “... Keira, anak SMP Harapan.” Dengan polosnya Keira menjabat tangan Angkasa yang ukurannya lebih besar dari tangannya.

Tanpa sengaja bertemu di bis beberapa kali di waktu yang sama, membuat mereka berpikir itu bukanlah kebetulan, melainkan takdir. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk menjalin hubungan, dan saling berbagi nomor telepon. Berangkat bersama sesuai jam yang telah di janjikan, lalu berbincang selama perjalanan. Menceritakan berbagai hal, dari keseharian di sekolah hingga masalah yang sedang di hadapi. Sampai akhirnya... menceritakan sebuah rahasia yang hanya di ketahui oleh orang terdekat saja. Namun rahasia Angkasa membuat Keira terkejut dan tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Benarkah itu? Tapi kau...“ Keira mengantungkan ucapannya, menatap Angkasa lekat dan memeluknya.

Angkasa memang anak penerbangan, namun ia memiliki penyakit jantung. Itu adalah satu kenyataan terburuk bagi Angkasa untuk meraih impiannya sebagai pilot. Dan, satu hal yang tak pernah Keira sangka, dari pria yang kini menjalin kasih dengannya. Keira menggenggam erat tangan Angkasa yang bergatar dan berkeringat. Ia menundukkan kepala sambil mengelus tangan Angkasa, tak berani menunjungkan tampang sedihnya pada lelaki itu.

            Waktu berlalu tanpa mereka sadari. Dan Angkasa tak ada di sampingnya lagi. Ia menghilang tiba-tiba tanpa memberi kabar, membuat Keira khawatir. Namun... ia tak bisa melakukan apapun. Ia tak tau rumah Angkasa, keluarganya, ataupun temannya. Ia merasa bodoh, karena tak pernah bertanya dan meminta untuk bertemu temannya, ataupun berkunjung ke rumahnya.

Di saat Keira merasa kehilangan, tiba-tiba Angkasa datang lagi di hadapannya. Keira berlari dan memeluknya erat. “Kemana saja kamu? Kenapa gak beri kabar?” tanya Keira dengan suara bergetar. Angkasa membalas pelukan itu sambil membelai rambut panjang Keira.

“Maaf, penyakitku kambuh. Jadi, aku gak bisa memberimu kabar. Maaf.” Suara Angkasa pun ikut bergetar.

Di teras rumah Keira, Angkasa menjelaskan apa yang terjadi dengan detail. Kapan dan bagaimana penyakitnya kambuh, hingga apa yang terjadi selama perawatan. Angkasa selalu menyelipkan kata candaan agar tak terlalu menyedihkan. Namun, hati Keira terlalu rapuh mendengar orang yang di cintainya, sedang berjuang melawan sakit. Air mata jatuh membasahi pipi Keira, berkali – kali ia mencoba menahannya, namun tak pernah berhasil. Melihat hal itu, Angkasa merasa menyesal telah memberi taunya. Ia mengusap lembut wajah pujaan hatinya, dan berkata lirih. “Maaf.”

“Kamu gak perlu minta maaf, selama kamu masih di hadapanku itu udah cukup.” Keira memeluknya erat.

“Bisakah aku berkunjung ke rumahmu?” tanya Keira yang membuat Angkasa terdiam.

Angkasa melepaskan pelukannya, menatap gadis itu sambil berpikir. “... Baiklah, sekarang?” tanya Angkasa. Keira mengangguk mantap.

Keira pun berganti baju dan pergi ke rumah Angkasa. Bertemu kedua orang  tuanya dan bersenda gurau bersama, hingga matahari berganti rembulan. Keira berpamitan kepada orang tua Angkasa, dan pria itu pun mengantar pulang gadisnya dengan sepeda motor. Tak ada kata selama perjalanan pulang, sunyi dan hening. Hanya angin dan suara dari berbagai kendaraan yang menjadi latar belakang mereka. “Maaf sudah membuatmu khawatir.” Ujar Angkasa memecah keheningan.

“Bisakah kau berhenti mengatakan kata itu?” tanya Keira.

“Enggak.” Keira hanya tertawa mendengarnya, dan memeluk erat, seakan tak ingin kehilangannya lagi.

“Eh, perasaan jalanan lancar, tapi kenapa belum sampai? Apa kita tersesat?” Ujar Keira penasaran sekaligus khawatir.

Angkasa hanya diam, tak merespon. “Kok diam?” Angkasa menjawab dengan tawa.

“Hei, mau bawa aku ke mana kamu, heh?” tanya Keira, sok kesal.

“Aku lewat jalan pintas, makanya lama.”

“Kalau lewat jalan pintas harusnya cepat sampai, tapi... ini?” selidik Keira curiga.

Angkasa tertawa lagi. “Jalan pintas ini beda dari yang lain.”

“Tenang saja, kau akan sampai rumah dengan selamat kok, percaya deh.” Imbuh Angkasa.

Keira yang paham maksud terselubung Angkasa hanya diam, dan mengeratkan pelukannya.

            Entah sudah berapa jam yang mereka habiskan di jalan. Akhirnya mereka tiba di depan rumah Keira. “Makasih.” Ujar Keira tersenyum manis. “Makasih juga.” balas Angkasa.

“Buat?” Keira bingung.

“Buat senyum manismu, dan hari yang telah kita lalui selama ini.” Pipi Keira bersemu merah padam, jantungnya berdebar keras.

“Jangan kardus deh.” Elak Keira. Angkasa terawa melihat gadis itu salah tingkah.

“Pulang dulu ya.” pamit Angkasa menyalakan mesin motor. Keira mengangguk pelan.

“Senyum manisnya mana?” tanya Angkasa, Keira pun menunjukkan senyum termanisnya.

“Senyum lebar dong.” Pinta Angkasa. Keira tersenyum lebar.

“Tertawa dong.” Pintanya lagi, Keira tertawa sambil memukul pelan lengan Angkasa.

“Jadi pulang gak?” tanya Keira.

“Sebenarnya gak mau pulang, maunya lihat senyummu terus, tapi udah malam.” jawab Angkasa.

“Jadi?” tanya Keira lagi. Hening.

“Aku pulang, dah.” Ia mengegas sepedanya. Namun, baru separuh jalan ia berhenti.

Angkasa turun dari sepedanya dan berjalan cepat menghampiri Keira. “Jangan terlalu khawatir, kita pasti akan bertemu esok, jadi jangan menangis, janji?” Keira mengangguk pelan sambil menunjukkan jari kelingkingnya.

Angkasa menyentuh wajah Keira, mata mereka saling menatap. “Mimpi indah.” Ucap Angkasa, memeluk Keira. Setelah itu ia sungguh pamit pergi, dan Keira memantau kepergiannya sambil melambaikan tangan.

Malam yang indah. Sebelum tidur Keira menulis semua yang ia lalui di buku harian. Belum selesai ia menulis. Ponselnya berdering di sampingnya, tertulis nama Angkasa di layar ponsel. Ia segera mengangkatnya. “Sa, udah sampai?” tanya Keira riang. “Maaf, apa anda kenal dengan pemilik ponsel ini?” suara pria tak di kenal menjawab ponsel Angkasa. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat tau hal itu. Pikirannya di penuhi hal buruk tentang Angkasa, tapi ia menolak pikirannya itu. “Iya.” Jawabnya pelan dan ragu.

“Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan-“ belum selesai pria di sebrang itu bicara, ponsel Keira terlepas dari genggaman tangannya. Semua tubuhnya tiba – tiba terasa lemah dan tak berdaya. Tubuhnya bergetar hebat, air mata membasahi pipinya, ia pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Awan kelabu menyelimuti langit, rintikan hujan membasahi jalanan. Kini Angkasa tak lagi di samping Keira untuk selamanya. Keira tak bisa menepati janjinya pada Angkasa untuk tidak menangis. Janji itu terasa sulit untuk di tepati Keira. Namun, setelah beberapa bulan terlarut kesedihan, Keira pun bisa melepas kepergian Angkasa dengan ikhlas. Ia melalui harinya seperti biasa. Pergi sekolah dengan bis, bertemu teman – temannya, mengikuti pelajaran, canda tawa bersama teman dekat dan keluarganya, dan hal sederhana lainnya. Walau di luar tampak riang, tapi hatinya masih merasakan perih dan duka yang mendalam.

Sekian

Inspirasi cerita : teman SMP “K”

Written by : Kazuno Feira Azrina

Komentar

Postingan Populer